Para pembaca yang budiman, pertanyaan di atas
merupakan pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana
pertanyaannya. Karena kita tahu bersama bahwa murid itu adalah hasil cetakan
dari guru.
Jika guru mengajarkan murid dengan ajaran-ajaran
kebaikan, maka murid pun menjadi cerdas. Bukan hanya cerdas otaknya, tapi juga
cerdas hatinya serta cerdas akhlaknya. Tapi sebaliknya, jika guru mengajarkan
keburukan pada murid, maka murid pun menjadi bodoh. Bukan hanya bodoh otaknya,
tapi juga bodoh hatinya dan bodoh akhlaknya.
Umpama membuat kue, keluarga adalah koki yang
mencampur bahan-bahan untuk membuat kue sesuai keahlian dan resep yang
dimiliki. Sedangkan sekolah adalah mixer dan oven untuk mengolah bahan-bahan
yang sudah ada, lalu dimasukkan ke dalam oven hingga matang. Enak atau tidaknya kue, paling utama
ditentukan oleh koki nya. Apakah koki itu pintar membuat kue atau tidak.
Kembali lagi pada pertanyaan awal, apakah ada murid
yang bodoh? Jawabannya adalah ADA,
bahkan BANYAK BANGET murid yang
bodoh di dunia ini. Jadi, murid yang dikatakan bodoh itu bukanlah murid yang
tidak lulus ujian. Bukan murid yang nilai pelajarannya jelek. Bukan murid yang
tidak naik kelas. Bukan murid yang otaknya lemah berpikir. Bukan murid yang
tidak bisa pelajaran hitung-hitungan.
Murid yang bodoh adalah murid yang bersekolah, tapi
tujuan utamanya adalah untuk mencari nilai, mencari ijazah, dan mencari gelar
akademik. Hal ini berlaku juga pada mahasiswa. Mahasiswa yang bodoh adalah
mahasiswa yang kuliah, tapi tujuannya supaya mendapat IPK tinggi, mendapat
ijazah, dan mendapat gelar.
Bila kita bersekolah atau kuliah dengan tujuan untuk
mendapatkan nilai, untuk mendapatkan ijazah, dan untuk mendapatkan gelar S1,
S2, atau S3, maka ya sayang banget. Padahal peluang kita untuk mendapatkan
pahala jariyah itu bermula dari kita menuntut ilmu di sekolah maupun di kampus.
Karena sekolah maupun kampus adalah tempat untuk
menuntut ilmu. Kita bersekolah dan kuliah adalah untuk belajar membina karakter
kita sehingga menjadi lebih baik dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya, yang kemudian ketika kita sudah lulus, maka ilmu tersebut
bisa dipraktekkan pada lingkungan di mana kita berada. Dengan demikian, kita
bisa mendapatkan pahala jariyah. Aamiin Ya Robbalallamin.
Percayalah bahwa nilai, IPK, ijazah, dan gelar
akademik hanyalah sebagai bonus yang
kita dapatkan ketika kita serius menuntut ilmu. Bukan sebagai tujuan utama kita
bersekolah maupun kuliah.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
Ditulis oleh : Rian Bin Taro
Sumber gambar : Google

No comments:
Post a Comment
silahkan komen dengan santun, bijak, boleh juga mengkritik, tapi tetap saling menjaga satu sama lain, akan lebih baiknya anda tidak spam. thanks