Thursday, April 4, 2019

Apakah Di Dunia Ini Ada Murid Yang Bodoh?



Para pembaca yang budiman, pertanyaan di atas merupakan pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana pertanyaannya. Karena kita tahu bersama bahwa murid itu adalah hasil cetakan dari guru.
Jika guru mengajarkan murid dengan ajaran-ajaran kebaikan, maka murid pun menjadi cerdas. Bukan hanya cerdas otaknya, tapi juga cerdas hatinya serta cerdas akhlaknya. Tapi sebaliknya, jika guru mengajarkan keburukan pada murid, maka murid pun menjadi bodoh. Bukan hanya bodoh otaknya, tapi juga bodoh hatinya dan bodoh akhlaknya.
        Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi otak, hati, dan akhlak seseorang adalah sekolah. Tapi, sekolah bukan faktor yang paling kuat. Karena faktor yang paling kuat dalam mempengaruh otak, hati, dan akhlak seseorang adalah keluarga. Karena keluarga berperan sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang.
Umpama membuat kue, keluarga adalah koki yang mencampur bahan-bahan untuk membuat kue sesuai keahlian dan resep yang dimiliki. Sedangkan sekolah adalah mixer dan oven untuk mengolah bahan-bahan yang sudah ada, lalu dimasukkan ke dalam oven hingga matang.  Enak atau tidaknya kue, paling utama ditentukan oleh koki nya. Apakah koki itu pintar membuat kue atau tidak.
Kembali lagi pada pertanyaan awal, apakah ada murid yang bodoh? Jawabannya adalah ADA, bahkan BANYAK BANGET murid yang bodoh di dunia ini. Jadi, murid yang dikatakan bodoh itu bukanlah murid yang tidak lulus ujian. Bukan murid yang nilai pelajarannya jelek. Bukan murid yang tidak naik kelas. Bukan murid yang otaknya lemah berpikir. Bukan murid yang tidak bisa pelajaran hitung-hitungan.
Murid yang bodoh adalah murid yang bersekolah, tapi tujuan utamanya adalah untuk mencari nilai, mencari ijazah, dan mencari gelar akademik. Hal ini berlaku juga pada mahasiswa. Mahasiswa yang bodoh adalah mahasiswa yang kuliah, tapi tujuannya supaya mendapat IPK tinggi, mendapat ijazah, dan mendapat gelar.
Bila kita bersekolah atau kuliah dengan tujuan untuk mendapatkan nilai, untuk mendapatkan ijazah, dan untuk mendapatkan gelar S1, S2, atau S3, maka ya sayang banget. Padahal peluang kita untuk mendapatkan pahala jariyah itu bermula dari kita menuntut ilmu di sekolah maupun di kampus.
Karena sekolah maupun kampus adalah tempat untuk menuntut ilmu. Kita bersekolah dan kuliah adalah untuk belajar membina karakter kita sehingga menjadi lebih baik dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, yang kemudian ketika kita sudah lulus, maka ilmu tersebut bisa dipraktekkan pada lingkungan di mana kita berada. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan pahala jariyah. Aamiin Ya Robbalallamin.
Percayalah bahwa nilai, IPK, ijazah, dan gelar akademik hanyalah  sebagai bonus yang kita dapatkan ketika kita serius menuntut ilmu. Bukan sebagai tujuan utama kita bersekolah maupun kuliah.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

Ditulis oleh : Rian Bin Taro
Sumber gambar : Google


No comments:

Post a Comment

silahkan komen dengan santun, bijak, boleh juga mengkritik, tapi tetap saling menjaga satu sama lain, akan lebih baiknya anda tidak spam. thanks